AKANKAH PERANG DINGIN PECAH BILA "PUTIN" JADI PRESIDEN?


Foto : Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin (AP)

MOSKOW - Perdana Menteri Vladimir Putin akan kembali mencalonkan diri sebagai Presiden Rusia pada 2012 mendatang. Putin memang selalu tampil dengan retorika anti-Barat, apakah Perang Dingin akan kembali terulang dengan kembalinya Putin?

Seorang pakar politik keturunan Jerman dan Rusia Alexander Rahr menilai, Putin akan mengantarkan perubahan baru dalam sistem aliansi dunia. Namun bukan berarti Perang Dingin antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia akan muncul.

Meski terkenal dengan perkataan anti-AS-nya, Putin dipastikan tidak mencetuskan segala kebijakan anti-Barat bila dirinya berhasil mendapatkan kursi presiden pada 2012 mendatang. Putin hanyalah seorang yang menolak intervensi Barat terhadap masalah internal negara lain. Hal itu terbukti dengan sikapnya yang mengecam kritikan dari Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton terkait proses pemilihan umum Rusia.

Menurut Rahr, Putin adalah seorang yang berusaha untuk memperbaiki hubungan AS dan Rusia. Hal ini terbukti dengan adanya penandatanganan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (START), perjanjian itu akan mengurangi perlombaan persenjataan antara AS dan Rusia. Demikian seperti diberitakan Russia BTH, Selasa (20/12/2011).

Perseteruan Rusia dan AS belakangan ini terjadi ketika munculnya revolusi di dunia Arab, terutama isu Libya, yang akhirnya menggulingkan rezim Moammar Khadafi. Putin berulang kali mengkritisi Barat karena Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) memberikan mandat ke North Atlantic Treaty Organization (NATO) untuk menginvasi Libya.

Kremlin menilai, NATO melanggar hukum internasional sekaligus kedaulatan Libya. Di samping itu, Rusia juga mengkritik pedas sistem pertahanan misil NATO yang digagas oleh AS. Rusia bahkan mengatakan, sistem pertahanan itu bagai ular anaconda yang melilit Rusia. Negeri Beruang Merah itu akhirnya membalas Barat dengan menempatkan misilnya di Kaliningrad.

Rusia memang selalu keras untuk mengurus keamanan nasionalnya dan tampak mengkonfrontir AS, namun Rusia tetap akan mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan Paman Sam dan Eropa.

Bila terpilih menjadi Presiden Rusia, Putin juga akan memperkuat kerja samanya dengan Brasil, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS). BRICS akan menjadi kunci untuk mendukung kepentingan Rusia dari sisi regional. Di masa yang akan datang, organisasi itu diprediksikan akan menjelma menjadi sebuah aliansi politik dan militer.

Ada pula yang mengatakan, BRICS akan berubah menjadi sebuah blok yang selalu menolak ambisi politik Washington.